CIANJUR – Pemerintah berencana membuka rekening gratis bersaldo bagi warga berusia 17 tahun. Rencana tersebut mendapat respons dari kalangan masyarakat, termasuk di Kabupaten Cianjur.
Pengamat Ekonomi Cianjur, Doddie Faraitody, menilai gagasan pemerintah untuk mendorong setiap masyarakat Indonesia memiliki rekening bank terdengar modern dan progresif. Bahkan secara inklusi keuangan, program ini cukup menjanjikan.
“Karena seluruh rakyat diharapkan masuk ke dalam sistem perbankan dan ekonomi digital,” kata Doddie, Kamis, 10 September 2026.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) ditunjuk pemerintah memfasilitasi pembukaan rekening tersebut. Namun, di balik program tersebut muncul pertanyaan masyarakat.
“Kalau semua orang punya rekening, apakah semua orang otomatis punya uang?. Saya kira tentu tidak,” ujarnya.
Dosen Etika Bisnis Universitas Putra Indonesia (Unpi) itu menyarankan semua pihak berhenti sejenak dari euforia angka. Sebab, rekening bukan penentu kesejahteraan, tapi hanya sebagai alat.
“Jangan sampai negara terlalu bangga karena berhasil membuka jutaan rekening, tetapi lupa bertanya apakah pemilik rekening tersebut benar-benar mengalami peningkatan kesejahteraan,” tuturnya.
Dalam perspektif etika bisnis, kata Doddie, inklusi keuangan seharusnya menghasilkan pemberdayaan. Masyarakat harus memperoleh manfaat nyata dmasuknya mereka ke dalam sistem keuangan.
“Yang terjadi justru sebaliknya, bank mendapatkan jutaan nasabah baru dan industri keuangan mendapatkan pasar baru, tapi sementara di sisi lain rakyat hanya mendapatkan nomor rekening,” paparnya.
Menurut Doddie, Indonesia tidak cukup hanya membutuhkan financial inclusion atau rakyat hanya masuk ke dalam sistem keuangan.
“Tapi Indonesia membutuhkan financial empowerment yaitu sistem keuangan yang membuat rakyat lebih berdaya,” pungkasnya. (bay)






























































