CIANJUR – Kesuksesan karier yang diraih E Ariswandi Sugiarto S. Kep, NERS di lingkup birokrasi, tidak dicapai dengan mudah. Ada kisah panjang yang mewarnai perjalanannya meniti karier hingga akhirnya dipercaya sebagai Kepala Puskesmas Gunungbitung Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur.
Aris, sapaan akrabnya, lahir di Cianjur. Beliau berada di lingkungan keluarga yang secara ekonomi terbilang pas-pasan.
Keterbatasan ekonomi keluarga itu juga yang membuat ayahnya sempat kesulitan memperoleh layanan kesehatan saat sakit. Kondisi itu membuat ayahnya harus menjual kayu bakar untuk biaya berobat.
Kisah pilu ayahnya sangat membekas di hati dan benak Aris. Lantas Aris kecil pun bertekad kelak dewasa ingin menggeluti dunia kesehatan sehingga bisa membantu menangani keluarga atau masyarakat yang sedang sakit.

“Waktu saya kecil, almarhum ayah sakit. Tapi ayah saya tak memiliki biaya berobat sehingga harus menjual kayu bakar atau apa saja yang bisa dijual,” tutur Aris, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Seiring berjalannya waktu, setelah lulus di SDN Sukasari, Aris yang beranjak remaja melanjutkan pendidikannya di SMPN 2 Kadupandak.
Lalu, Aris hijrah ke Cianjur kota karena diterima masuk ke SMAN 2 Cianjur. Tiga tahun menyelesaikan pendidikan di SMAN 2 Cianjur, Aris kemudian mengambil Diploma III di Akademi Keperawatan (Akper).
Lalu, Aris kembali melanjutkan sarjana keperawatan dan profesi di Institut Kesehatan Rajawali, Bandung. Untuk mendukung kariernya, Aris kembali melanjutkan pendidikan dengan meraih magister S2 program studi Hukum Kesehatan di Universitas Pakuan (Unpak) Bogor.
Kini, suami Herni Mulyani itu dipercaya sebagai Kepala Puskesmas Gunungbitung di Kecamatan Cibinong. Amanah itu diembannya dengan sungguh-sungguh karena ia ingin mengabdikan diri bagi keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan.
Amanah itu pula jadi jembatan baginya menyambungkan program pemerintah kepada masyarakat sesuai visi dan misinya memberikan layanan maksimal
dalam sektor kesehatan. Baginya, pelayanan maksimal itu bukan dengan cara menunggu, tapi harus bersifat menjemput bola.
“Saya gunakan sumber daya semaksimal mungkin memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saya mendekatkan pelayanan jemput bola, bukan menunggu yang datang. Saya ingin membantu masyarakat. Jangan sampai kejadian yang pernah dialami almarhum ayah dialami juga keluarga saya ataupun masyarakat lain,” tuturnya.
Aris berharap, dedikasinya di dunia kesehatan bisa diteruskan anak-anaknya. Satu dari dua orang anaknya kini hendak menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan Bandung.
“Anak saya ada dua orang. Anak pertama yaitu M Alief Fadilah Al Ghifari baru mau masuk ke Fakultas Kedokteran Unpas. Anak kedua, Tsany Aulia Araminta, sedang bersekolah di SMP Almadina Boarding School,” pungkasnya. (bay)



























































