CIANJUR – Psikolog asal Cianjur, Sri Tedjaningsih, turut menyoroti kasus dugaan perundungan berujung pengeroyokan terhadap seorang siswa SMA IT Al-Hanif di Kecamatan Cibeber. Siswa yang duduk di kelas 11 itu diduga dikeroyok kakak kelasnya hingga memgalami luka memar pada bagian mata.
Sri mengaku miris kejadian itu dilakukan para siswa yang notabene masih remaja. Mereka tega membawa ke ruangan kosong yang dikunci lalu melakukan pengeroyokan.
“Saya kepikiran gimana mereka melampiaskan hingga kelepasan. Bisa saja terjadi kehilangan nyawa. Apalagi di usia remaja, energi mereka besar,” kata Sri, Senin, 3 Agustus 2026.
Merunut kejadian tersebut, Sri lantas tidak melabeli istilah pelaku atau korban. Pada kasus itu, F mendapatkan tugas menyisir teman-temannya untuk diajak salat berjamaah.
Namun ada salah seorang temannya bersembunyi di lemari. Untuk memberikan efek jera, F menyemprotkan handspray menggunakan korek api gas sehingga menyulut api.
Sri melihat, efek jera yang dilakukan F tentu akan membuat marah temannya. Bahkan perbuatannya relatif cukup berbahaya.
“Pertanyaannya, kenapa anak ini memilih solusi seperti itu untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Akibat kejadian yang dialaminya, temannya marah sehingga menceritakan ke rekan-rekannya. Sri pun mempertanyakan aktor di balik inisiasi efek jera yang dilakukan F.
“Kalau ini sudah psikologi kelompok. Entah demi kekompakan, entah ada yang dipaksa ikut. Kenapa mereka memilih solusi itu?,” paparnya.
Terkait sekolah yang diduga menutup-nutupi peristiwa itu. Sri berpendapat mereka memiliki rasa takut salah menyampaikan sehingga informasi melebar ke mana-mana.
“Sekolah menjadi pihak yang harus bertanggung jawab. Ini semata-mata bukan karena kejadiannya, tetapi karena anak menghabiskan sepersekian persen waktu di sekolah,” pungkasnya. (bay)




























































