CIANJUR – Implementasi kata merdeka dimaknai beragam kalangan masyarakat. Kata ini begitu menggema bertepatan HUT Kemerdekaan RI yang diperingati setiap 17 Agustus.
Di Kampung Garogol RT 05/03 Desa Cibulakan Kecamatan Cugenang misalnya, pada salah satu ornamen HUT ke-81 RI yang terpasang di gapura gang, terdapat sebuah tulisan ‘Apakah Sudah Merdeka?’.
Sebuah tulisan yang bisa dipersepsikan berbeda-beda. Tulisannya bisa dimaknai, sejak Indonesia merdeka 81 tahun lalu, masyarakatnya sudah merdeka atau belum.
Bisa juga dimaknai tulisan ini sebuah sindiran atau satire karena merupakan sebuah pertanyaan.
“Makna dari tulisan tersebut, jangan sampai HUT kemerdekaan itu hanya seremonial atau agenda tahunan untuk perlombaan. Seharusnya pemerintah itu lebih introspeksi dengan kebijakan-kebijakan sekarang,” tutur Ketua Karangtaruna Desa Cibulakan, Arya, Senin, 17 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi saat ini ekonomi lokal semakin merosot. Bahkan ditandai dengan naiknya harga bahan-bahan pokok.
Belum lagi segala bentuk pendapatan terkena pajak. Di sisi lain angka korupsi semakin merajalela.
Masyarakat tentu cemas. Sumber kehidupan masyarakat terancam dirampas berbagai kebijakan. Salah satu contoh masyarakat di kaki Gunung Gede Pangrango.
“Contoh dekatnya masyarakat tapak kaki Gunung Gede yang terancam dengan yg katanya proyek strategis nasional (PSN) yaitu panas bumi (geothermal),” ujarnya.
Arya menyebut, kemerdekan sesungguhnya merupakan kebebasan menyuarakan pendapat.
“Didiklah penguasa dengan perlawanan yang bukan melanggar hukum, tetapi berani mengungkapkan pendapat. Berani mengontrol pemerintahan supaya tercipta apa yang dinamakan merdeka,” pungkasnya. (bay)































































