Puluhan Tahun Pasutri Lansia di Bojongpicung Tinggal di Gubuk Nyaris Ambruk

CIANJUR – Pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia Abah Yeyet (64) dan Nung (62), warga Kampung Ciawitali RT 01/06 Desa/Kecamatan Bojongpicung puluhan tahun menempati rumah tidak layak huni. Bangunan rumahnya hanya beratapkan seng dan dinding anyaman bambu.

Kondisi rumah yang disebut warga sebagai Gubuk Abah itu, pada bagian atapnya terlihat banyak ditambal. Begitupun dinding yang mulai retak atau mengelupas.

Tiang-tiang penyangga rumah dari kayu terlihat keropos. Sewaktu-waktu bisa saja roboh lantaran tidak kuat lagi menopang.

Kondisi toilet rumah Abah pun jauh dari kata layak karena tidak memenuhi standar kesehatan dan kebersihan. Rumah Abah juga berdekatan dengan kandang domba.

Abah Yeyet telah menempati rumahnya selama 30 tahun lebih. Lahan yang ditempati bukan milik pribadi, tetapi kepunyaan juragan yang mempercayakan sawahnya untuk dikelola.

“Saya tinggal berdua dengan istri. Tiga orang anak kami sudah semuanya berumah tangga. Tanah ini milik bos yang mempercayakan sawahnya digarap Abah,” tutur Abah, Selasa, 3 November 2026.

Sesepuh di Kampung Ciawitali itu sering was-was apabila hujan turun dengan intensitas tinggi dan angin kencang. Abah trauma kerusakan rumah masih sering kali membekas diingatannya.

“Waktu itu pernah pas hujan besar air masuk ke dalam,. Atap-atap juga terbawa angin kencang,” paparnya.

Akibat kejadian itu, Abah harus memutar otak mencari dana pinjaman. Beruntung ada yang memberikan pinjaman sebesar Rp3 juta.

Namun Abah belum bisa melunasinya. Penghasilan Abah pas-pasan karena hanya kerja serabutan sebagai buruh tani dan memelihara domba milik orang lain.

Meski hidup di bawah garis kemiskinan dan serba kekurangan, Abah tidak pernah menyerah dengan keadaan.

Begitupun istrinya Mak Nung yang lebih memilih menikmati masa tua daripada ikut tinggal di rumah anak-anaknya. (bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *