CIANJUR – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur menyambut baik penetapan kebaya sebagai warisan budaya Takbenda UNESCO.
Sebelumnya, kebaya resmi ditetapkan sebagai salah satu daftar representatif warisan budaya Takbenda UNESCO berdasarkan sidang ke 19 Session of the Intergovernmental Committee On Intangible Cultural Heritage (ICH) di Paraguay beberapa waktu lalu.
Kepala Bidang Disbudpar Kabupaten Cianjur Susan Susilawati mengatakan, penetapan kebaya sebagai warisan budaya Takbenda UNESCO adalah langkah yang sangat membanggakan dan penting bagi Indonesia.
“Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi juga simbol identitas, sejarah dan keanekaragaman budaya kita,” kata Susan, (2/10/2024).
Menurut Susan, hal itu merupakan momen untuk merayakan warisan budaya, sekaligus mendorong generasi muda agar lebih mencintai dan melestarikan kebaya.
“Kebaya juga mencerminkan nilai-nilai seperti keanggunan, kerja keras, dan kreativitas yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Tantangan kedepannya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan penggunaan kebaya di tengah perubahan zaman. Kita perlu memastikan bahwa kebaya tetap relevan.
“Misalnya dengan mengintegrasikannya dalam busana modern tanpa kehilangan nilai-nilai tradisionalnya,” ujarnya.
Penetapan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO membawa dampak positif bagi kebudayaan di daerah seperti Cianjur.
“Pertama pelestarian kebudayaan lokal. Di Cianjur, kebaya sering dipakai dalam acara tradisional seperti pernikahan adat Sunda atau upacara adat lainnya, kedua peningkatan ekonomi lokal, ketiga romosi kebudayaan Cianjur, keempat pendidikan dan kesadaran budaya dan kelima pariwisata budaya,” pungkasnya. (bay)


































































