CIANJUR – Debat kandidat kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Cianjur digelar di salah satu hotel di kawasan Cipanas, Jumat, 8 November 2024. Salah satu materinya mengenai potensi daerah.
Sebagaimana diketahui Kabupaten Cianjur punya kearifan lokal tiga pilar budaya yaitu Ngaos, Mamaos, dan Maenpo. Tiga pilar budaya itu jadi ‘senjata’ bagi pasangan calon nomor urut 2, Muhammad Wahyu-Ramzi Geys Thebe, dan pasangan calon nomor urut 3 Deden Nasihin-Neneng Efa Fatimah, menyerang pasangan nomor urut 1 Herman Suherman-Muhammad Solih Ibang.
Kedua pasangan calon itu mengkritisi tidak maksimalnya implementasi tiga pilar budaya Kabupaten Cianjur selama kepemimpinan Herman Suherman kepada masyarakat. Padahal, Herman sebagai petahana yang sekarang berpasangan dengan Muhammad Solih Ibang, mengeklaim tiga pilar budaya merupakan identitas masyarakat Kabupaten Cianjur.
Calon wakil bupati nomor urut 2, Ramzi Geys Thebe, misalnya yang mengaku selalu berinteraksi dengan kalangan pelajar mengenai tiga pilar budaya Kabupaten Cianjur. Namun, mayoritas para pelajar tak mengetahuinya.
Bagi Ramzi kondisi itu mencerminkan tidak maksimalnya sosialisasi tiga pilar budaya kepada elemen masyarakat. Padahal, tiga pilar budaya ini telah diperdakan.
“Mereka (pelajar) tidak tahu apa itu tiga pilar budaya. Padahal pada tahun 2022 pernah dibuat Perda tentang Ngaos, Mamaos, dan Maenpo,” kata Ramzi
Calon Bupati Cianjur nomor urut 3, Deden Nasihin, sependapat dengan penyataaan Ramzi. Dia pun menilai tiga pilar budaya khas Kabupaten Cianjur faktanya kurang diimplementasikan.
“Saya setuju dengan apa yang disampaikan palson nomor 2. Ke depan, kami palson nomor 3 berkomitmen akan mengimplementasikan Ngaos, Mamaos, dan Maenpo dengan cara kami,” kata Deden.
Calon Bupati Cianjur nomor urut 1, Herman Suherman, menampik pernyataan kedua pasangan calon soal tak terimplementasikannya dengan baik tiga pilar budaya Kabupaten Cianjur.
“Implementasi tiga pilar budaya sudah kami lakukan. Cianjur itu luas. Terdapat 32 kecamatan serta 360 desa dan kelurahan. Tidak bisa satu atau dua sekolah saja yang dijadikan sampel,” tegasnya. (bay)






























































