CIANJUR – Gisani Ali Rahman Alif (32), warga Cidalem RT 002/005, Desa Wanasari Kecamatan Agrabinta mengalami lumpuh sejak 7 tahun lalu. Lelaki yang sebelumnya bermatapencaharian sebagai penjahit itu sudah tak bisa beraktivitas normal.
Waktunya dihabiskan di kasur. Sementara untuk makan ataupun buang air kecil dan besar dibantu keluarganya.
Kondisi keuangan yang cukup terbatas membuat pihak keluarga belum bisa mengobati Gisani secara medis.
Perwakilan keluarga, Samsy (32), menjelaskan sebelum sakit, saudaranya dikenal sebagai pekerja keras. Dia pun merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya.
Petaka itu datang. Gisani kabarnya sempat terjatuh. Dia divonis dokter mengalami penyakit Herniated Disc atau HNP.
“Setelah jatuh, saudara saya jadi lumpuh. Dia kemudian dibawa ke RSHS Bandung. Kata dokter syaraf kejepit,” ujar Samsy, Selasa, 31 Maret 2026.
Setahun mengalami lumpuh, Gisani kemudian digugat cerai istrinya. Mantan istrinya kemudian menikah lagi.
“Selain sakit fisik, saudara saya sakit pikiran karena istrinya minta pisah dan anaknya dibawa. Sekarang mantan istrinya sudah menikah lagi sama tetangga. Rumahnya gak jauh,” ujarnya.
Keluarga Gisani sudah angkat tangan dengan kondisi tersebut. Sebab, mereka tak punya uang cukup untuk biaya pengobatan yang terbilang besar.
“Saat di RSHS Bandung dikasih tahu bahwa biaya sekali kontrol Rp20 juta. Belum lagi harus dioperasi,” ungkapnya.
Gisani pernah mendapatkan bantuan sembako. Namun tidak cukup untuk menunjang kehidupan sehari-harinya.
Dia pun berharap, ada donatur yang mau membantu biaya makan dan pengobatan.
“Pemerintah desa setempat memberikan bantuan ala kadarnya. Keluarga berharap ada bantuan buat sehari-hari dan biaya pengobatan untuk kesembuhan Gisani,” pungkasnya. (bay)































































