CIANJUR – Ratusan personel gabungan dikerahkan mengeksekusi lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Bojongmeron, Selasa, 11 November 2025. Upaya penertiban sempat mendapat perlawanan.
Berdasarkan pantauan, ada sekitar 500 personel gabungan. Mereka terdiri dari Satpol PP dan Damkar Cianjur, Polres Cianjur, serta unsur-unsur pendukung lainnya. Sempat terjadi perlawanan dari para pedagang saat lapak-lapak dan barang berjualan mereka diamankan petugas.
Namun, bentrokan tak meluas. Petugas berhasil meredam hingga eksekusi berjalan sesuai rencana.
Kepala Satpol PP dan Damkar Cianjur Djoko Purnomo mengatakan, penertiban yang dilakukan merupakan tindaklanjut proses sosialisasi, SP 1 hingga SP 3 kepada para pedagang.
Tahapan terakhir itu menyisakan puluhan pedagang yang tetap tidak ingin direlokasi ke Pasar Induk Cianjur (PIC).
“Berdasarkan data dari 213 pedagang, 117 sudah daftar ulang, hari ini menyusul, pedagang yang di bagian tengah, sekitar 20 orang,” kata Djoko.
Pada proses penertiban diakui Djoko tidak berjalan lancar, sebab muncul gelombang penolakan sehingga terjadi gesekan fisik antara petugas dan para pedagang yang didukung organisasi mahasiswa GMNI, PMII, HMI dan LBH Cianjur.
“Ada gesekan sedikit, terkait keinginan sebagian rekan-rekan penyampai aspirasi ingin relokasi dihentikan,” ujarnya.
Terkait korban gesekan dari kedua belah pihak, Djoko belum bisa memastikan dan akan dilakukan pengecekan.
“Saat ini kami belum mendapatkan laporan, kami akan mengecek di internal kita, apakah ada personil kami yang terluka, mungkin di pedagang ada juga,” paparnya.
Usai relokasi para pedagang, para petugas Satpol PP akan tetap melakukan patroli untuk mencegah para pedagang berjualan kembali, sebab nantinya kawasan Bomerocitywalk akan dijadikan kawasan etalase publik.
“Nanti akan ada seperti kegiatan budaya, musik dan kuliner khas Cianjur,” pungkasnya. (bay)





























































