CIANJUR – Kepala SMAN 2 Cianjur, Haruman, berkelit soal adanya dugaan kecurangan pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah yang ia pimpin.
Haruman malah menyalahkan sistem PPDB online yang merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar.
Sehingga penilaian siswa lulus atau tidaknya PPDB melalui jalur rapor dan prestasi itu merupakan sistem otomatis online oleh Disdik Jabar.
“Jadi terkait penilaian siswa baik jalur raport dan prestasi itu otomatis oleh robot setelah diinput melalui sistem online. Itu merupakan kewenangan dari Pemprov Jabar dan kami tidak bisa menentukan lulus atau tidaknya,” kata Haruman, Rabu (10/7/2024).
Menurut dia, mengenai beberapa atlet yang berprestasi tidak lolos juga merupakan hasil dari penilaian sistem tersebut.
“Terkait pemberitaan di beberapa media sosial yang atlet sudah juara 02SN Kabupaten Cianjur diduga dicurangi oleh pihak sekolah itu tidak benar. Tetapi tidak masuk karena juga merupakan penilaian dari sistem dan tercatat nilainya rendah,” ujarnya.
Sebelumnya, seorang pelatih salah satu cabor berinisial F, mengeluhkan anak didiknya yang mengalami trauma psikis lantaran mengalami dugaan kecurangan penerimaan peserta didik baru (PPDB) di SMA Negeri 2 Cianjur.
Padahal, anak didiknya itu merupakan atlet yang mewakili Kabupaten Cianjur di tingkat Provinsi Jawa Barat setelah menjuarai O2SN.
“Yang terjadi anak-anak kita ini merasa sudah meraih prestasi yang baik, disaat hasil PPDB ini gak masuk, kan ada kekecewaan moril anak atau mentalnya ini jadi ngedown,” kata F.
Di sisi lain, salah satu orang tua murid mempertanyakan, nilai keponakannya rata-rata 9,6. Namun tetap tidak bisa masuk ke SMAN 2 Cianjur.
“Keponakan saya tidak lulus padahal nilai memenuhi syarat,” kata dia. (bay)






























































Masih mau masuk Sekolah aja sdh ngak mendidik ortunya. Jangan salahkan anak anak kelak. Akibat ortu serakah.