CIANJUR – Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, dan Questioning (LGBTQ) mendapatkan pandangan dari konselor psikologi asal Cianjur, Sri Tedja. Sri menyebut, perilaku LGBTQ bukan merupakan jenis penyakit dan sudah diakui organisasi kesehatan internasional.
“Itu sudah diputuskan secara resmi oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 1990,” kata Sri, Jumat, 17 Juli 2026.
Berdasarkan penelitian, penyebab LGBTQ bukan karena pola asuh orangtua ataupun pengaruh film dan konten-konten tertentu.
“Berdasarkan WHO dan Asosiasi Psikologi Amerika (APA), perilaku itu bukan karena didikan orangtua atau bukan karena nonton film dan melihat konten. Kebanyakan orang baru sadar setelah pubertas,” ujarnya.
Bahaya LGBTQ pun dapat dilihat dari sisi kesehatan yang mana dapat tertular penyakit mematikan.
“Resiko IMS dan HIV lebih tinggi kalau tidak pakai proteksi dan ganti-ganti pasangan,” paparnya.
Adapun secara mental, Sri mengungkapkan banyak penelitian menemukan LGBTQ mempunyai tingkat stres, cemas, depresi, dan pikiran bunuh diri lebih tinggi.
“Penyebab utamanya biasanya diskriminasi, penolakan keluarga, bullying, dan stigma. Bukan karena identitasnya sendiri,” ungkapnya.
Perilaku LGBTQ dapat dicegah dengan memperkuat pemahaman agama dan lingkungan pertemanan.
“Bisa lewat mengaji, ibadah, kajian, atau konseling ke tokoh agama yang di percaya dan pilih lingkungan pertemanan yang sejalan sama nilai,” paparnya.
Selain itu, apabila merasa kebingungan dengan identitas gender dan berpotensi berperilaku LGBTQ, maka dapat mendatangi psikolog.
“Curhat ke psikolog atau konselor. Ini tempat aman buat mengerti diri sendiri tanpa dihakimi,” pungkasnya. (bay)




























































