CIANJUR – Sejumlah mahasiswa nekat membentangkan spanduk bertuliskan ‘Keluarga Sanusi (Santun tapi Korupsi)’ saat rapat paripurna DPRD dengan agenda pembahasan usulan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) di Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, Senin malam, 20 April 2026. Aksi itu ditengarai merupakan bentuk pelampiasan kekecewaan terhadap pemerintah daerah yang tak pernah hadir pada audiensi dengan mereka.
Berdasarkan pantauan, aksi diawali kedatangan sejumlah mahasiswa yang berada di lantai 2. Mereka terlihat duduk sambil memerhatikan jalannya rapat paripurna.
Saat Bupati Cianjur Muhammad Wahyu Ferdian beranjak ke podium, para mahasiswa yang tadinya duduk, langsung membentangkan spanduk.
Tidak berselang lama, sejumlah orang menyusul ke lantai 2. Mereka berusaha menurunkan spanduk tersebut. Tak ingin terjadi gejolak lebih besar, mahasiswa pun mengamankan sendiri spanduk itu.
Salah seorang mahasiswa, Agus Rama Tunggara, mengatakan sebelumnya beberapa mahasiswa berusaha beraudiensi dengan pemerintah daerah. Namun, setiap kali audiensi, mereka tak pernah berhadapan langsung dengan bupati.
“Kami ingin menyampaikan berbagai permasalahan. Mulai dari janji politik yang banyak belum terlaksana, dugaan praktik korupsi, hingga banyaknya tim sukses yang direkrut dalam tim percepatan pembangunan,” kata Agus, Selasa, 21 April 2026.
Bahkan, kata Agus, diakomodirnya tim sukses pada lingkungan pemerintah daerah diamini salah seorang perwakilan yang beraudiensi dengan mahasiswa.
“Kemarin diiyakan salah seorang tim TPPD. Dia direkrut berdasarkan lingkungan tim sukses. Ini kan jadi perlu dipertanyakan. Rekrutmennya bukan berdasarkan kompetensi, tapi kedekatan yang diutamakan,” tegasnya.
Karena itu, mahasiswa mengendus adanya dugaan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan Pemkab Cianjur.
“Dalam perspektif teori hukum dan kriminologi, fenomena pembentukan tim ad hoc dan rekruitmen dapat dibedah menggunakan formulasi Robert Klitgaard yang menyatakan bahwa korupsi lahir dari rumus korupsi adalah monopoli ditambah discretion dan kurangnya akuntabilitas. Itu terjadi di Cianjur,” tegasnya.
Terkait tulisan pada spanduk yang dibentangkan, Rama menyebut tidak tertuju pada salah satu pihak.
“Ya bagi yang merasa pasti tersinggung. Kalau tidak merasa kelurga ‘Sanusi’, ya jangan marah atau tersinggung,” tegasnya.
Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Metty Triantika, menyesalkan aksi tersebut karena dinilai mencederai forum resmi lembaga legislatif. Dia juga tidak mengetahui maksud dari pesan yang tertulis dalam spanduk tersebut.
“Kalau untuk spanduk ini saya juga gak paham maksudnya ke arah mana, kang,” kata Metty.
Selain itu, Metty menegaskan bahwa rapat paripurna merupakan forum tertinggi yang seharusnya dijaga kehormatannya oleh semua pihak. Sehingga dia menyayangkan aksi tersebut terjadi di tengah agenda resmi yang sedang berlangsung.
“Ini yang kami sayangkan. Kenapa forum rapat tertinggi harus dicederai dengan tindakan yang seperti itu. Harusnya mereka dapat memahami hal tersebut. Seyogianya dapat menghormati rapat paripurna yang sedang diselenggarakan kardna itu bukan momen yang tepat untuk melakukan tindakan hal seperti itu,” ucapnya.
Dia berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta semua pihak menghormati aturan serta tata tertib yang berlaku dalam forum paripurna.
“Harapan kami, ke depan hal seperti ini tidak terulang lagi. Kita bersama-sama menghormati rapat paripurna dengan baik sesuai dengan aturan dan tata tertibnya. Jika ingin menyampaikan aspirasi sebaiknya pada momen yang lain saja. Jangan pas di rapat paripurna supaya rapatnya bisa berjalan dengan baik,” ujarnya. (wan)
































































