CIANJUR – Sosok Sri Laelani merupakan potret Kartini era kini. Di tengah kesibukannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas sebagai Jabatan Fungsional Ahli Muda Kassub Binwasluh di Satpol PP Kabupaten Cianjur, Sri tak pernah lepas mengurus rumah tangga.
Perempuan kelahiran 1976 itu berbagi pengalaman menjadi dua sosok berbeda yang tetap harus sama-sama bertindak profesional.
Sri mengaku, di tengah kesibukannya sebagai ASN yang bertugas menegakkan peraturan daerah (Perda)/Perkada, menyelenggarakan ketertiban umum, dan melIndungi masyarakat, dia tetap mengutamakan keluarga.
“Perbedaannya, saat menjadi ibu rumah tangga fokus mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan melayani,” tutur Sri.
Pejuang emansipasi itu sangat menikmati waktu menjadi anggota Satpol PP. Sebab, ia merasakan solidaritas tinggi sesama anggota sehingga terbentuk ikatan persaudaraan layaknya keluarga, terutama saat bertugas di lapangan.
Selain itu, Sri juga mengaku tak jarang merasakan kepuasaan batin saat membantu masyarakat.
“Momen membantu warga ada kepuasan tersendiri ketika berhasil, seperti merapikan sarana dan prasarana, sehingga lebih nyaman dan aman,” ujarnya.
Namun, tak melulu soal suka, Sri juga memiliki pengalaman duka saat dicap menghilangkan rezeki seseorang pada kegiatan menertibkan para pelanggar perda.
“Dukanya saat dianggap penindas rakyat saat melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan gelandangan. Sering dicap kejam atau pemutus rezeki orang,” tuturnya.
Bertepatan momen peringatan Hari Kartini, Sri mengajak semua perempuan berani bermimpi dan berkarya sehingga menjadi kunci kemajuan Indonesia.
“Perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkarya dan mencapai kesuksesan di berbagai bidang,” pungkasnya. (bay)































































