CIANJUR – Salwu Fadli Amanah (9), bocah warga Kampung Rawasari Desa Sukanagara Kecamatan Sukanagara, harus berjuang melawan gagal ginjal yang dideritanya. Anak pertama pasangan suami istri, Sri Trisna Hayati (31) dan Indra Suhendra (32) itu, harus menjalani cuci darah secara rutin.
Kini ia terbaring lemah. Sebuah alat berbentuk selang harus selalu terpasang ke bagian perutnya.
Sri Trisna Hayati, mengatakan penyakit yang dialami anaknya sudah berlangsung 9 bulan. Penyakit yang diderita anaknya berawal adanya gejala bengkak pada bagian wajah.
Saat ingin buang air kecil seperti tertahan. Sekalinya keluar, air kencing bercampur nanah.
Kedua orangtua Salwu pun membawanya ke salah satu klinik. Hasil pemeriksaan, Salwu didiagnosa mengidap infeksi saluran kemih (ISK).
“Di klinik pertama itu dokternya bilang ISK karena melihat air kencing yang bercampur nanah,” kata Sri, Kamis, 5 Juni 2025.
Sri yang masih penasaran dengan penyakit anaknya lalu membawa ke klinik lain. Ternyata hasil diagnosa berbeda. Salwu dinyatakan mengalami penyakit lambung.
“Kalau hasil pemeriksaan di tiga klinik lain menyatakan anak saya ada gangguan di lambung,” ujarnya.
Pada pemeriksaan di klinik yang kelima, Salwu dianjurkan dirujuk ke RSUD Pagelaran. Di rumah sakit plat merah itu, Salwu yang masih duduk di bangku SD ditangani dengan baik.
Bahkan dilakukan tindakan USG dan pemeriksaan laboratorium. Hasilnya, Salwu didiagnosa mengalami gagal ginjal.
Saat perawatan medis, Salwu sempat tidak sadarkan diri lantaran kadar ureum dalam organ hati terlalu tinggi.
“Hasil USG dan pemeriksaan laboratorium di Jakarta baru ketahuan penyakit anak saya,” paparnya.
Saat ini Salwu diperbolehkan pulang dan menjalani pengobatan rawat jalan.
“Sekarang di rumah menunggu jadwal operasi yang ketujuh. Terus lima bulan sekali harus cuci darah mandiri. Di rumah juga anak saya harus ganti cairan setiap empat jam sekali,” ujarnya.
Sri mengaku pengobatan anaknya kendala keuangan. Sebab, tidak semua penyakit di-cover BPJS.
Secara ekonomi, pasutri itu masih kembang kempis. Mereka hanya mengandalkan pendapatan suami yang bekerja di salah satu minimarket.
“Banyak biaya alat medis, obat yang gak di-cover BPJS, belum ongkos bolak balik ke Jakarta. Suami kerja di minimarket, cuma gajinya enggak akan cukup menutupi biaya pengobatan,” pungkasnya. (bay)































































