CIANJUR – Tak banyak yang mengetahui, di balik kesuksesan Dadan Subarna sebagai Kepala Desa Kemang Kecamatan Bojongpicung saat ini, dulunya pernah mengajar tanpa dibayar sepeserpun. Baginya, hal itu tak jadi masalah, sebab ia memiliki semangat membangun wilayah melalui bidang pendidikan.
Suami Maspuroh ini pernah menjadi tenaga pengajar di SMPN 3 Bojongpicung. Hampir lima tahun ia mengabdi di sekolah tersebut. Dadan bisa dibilang merupakan pendiri SMPN 3 Bojongpicung.
Dadan mengisahkan perjalanan selama mengajar tanpa dibayar hingga kini dipercaya masyarakat terpilih sebagai kepala desa. Semuanya diawali pada 2002. Kala itu Dadan masih menjabat sebagai Sekretaris Desa Kemang.
Sebagai informasi, Desa Kemang terletak di wilayah terpencil di Kecamatan Bojongpicung. Secara geografis berada di kawasan perbukitan.
Wajar jika akses pendidikan pun sangat terbatas. Saat itu di wilayah tersebut keberadaan sekolah bisa dihitung dengan jari.
Pun keberadaan SMP yang sangat terbatas. Padahal di sisi lain pemerintah tengah menggemborkan program wajib belajar 9 tahun.
Bagi anak-anak yang ingin melanjutkan ke jenjang SMP, para orangtua terpaksa harus mendaftar ke sekolah di luar Desa Kemang. Konsekuensinya, mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh, hingga puluhan kilometer.
“Pada waktu saya masih menjabat sekdes. Tidak ada SMP di Desa Kemang sehingga masyarakat harus bersekolah ke luar desa dengan menempuh jarak sampai 20 kilometer,” tutur Dadan, Minggu, 6 Juli 2025
Dadan mengaku miris mendapati kenyataan itu. Dia kemudian berinisiatif mengumpulkan masyarakat, terutama yang peduli dengan pendidikan.
Tujuannya, mendorong pembangunan SMP di wilayah mereka. Melalui program Block Grant, mereka pun kemudian mengajukan proposal ke pemerintah pusat.
Salah satu syaratnya terlebih dulu menginduk ke SMP terdekat. Maka dipilih SMPN 2 Bojongpicung sebagai sekolah induk. “Salah satu syaratnya harus ada kelas jauh. Maka kami menginduk ke SMPN 2 Bojongpicung,” ungkapnya.
Singkat cerita, SMP kelas jauh pun akhirnya terealisasi. Kegiatan belajar mengajar pun dimulai.
Beberapa tenaga pengajar merekrut warga sekitar. Namun dalam perjalanan dihadapkan pada tidak adanya guru Bahasa Inggris.
Sebagai inisiator, Dadan lalu turun tangan. Dia mengajukan diri menjadi guru Bahasa Inggris tanpa dibayar.
Pekerjaan Dadan pun terbagi dua. Dia harus mengatur waktunya antara menjadi sekdes dengan guru.
Setiap pagi dia menjalankan kewajiban menjadi pelayan masyarakat di kantor Desa Kemang. Pada siang hingga menjelang sore, Dadan harus bergegas mengajar.
“Sebetulnya saya bukan bisa atau fasih berbahasa Inggris. Namun karena tidak ada yang berminat mengajar mata pelajaran itu, akhirnya saya mengajukan diri meskipun tanpa dibayar,” terangnya.
SMP kelas jauh berhasil meluluskan peserta didik. Pada 2006 Dadan dan para tokoh masyarakat kembali mengajukan pembangunan SMP ke pemerintah pusat karena beberapa persyaratan sudah terpenuhi.
Pemerintah pusat pun memberikan lampu hijau. Biaya pembangunan pun dikucurkan.
Sebelumnya, pihak desa sudah menyiapkan lahannya. Dari hasil survei, lahan yang disiapkan tak memenuhi kriteria karena kemiringan tanah dan luasnya kurang dari 6 ribu meter persegi.
Dadan kembali bermusyawarah dengan tokoh para tokoh masyarakat. Salah seorang tokoh masyarakat, Haji Banban, menyumbangkan dana untuk membeli tanah yang sesuai kriteria seluas 6 ribu meter persegi.
Akhirnya, pembangunan SMPN 3 Bojongpicung pun terwujud. “Tanahnya sudah disertifikatkan lalu dihibahkan kepada Disdikpora Cianjur,” paparnya.
Seiring berjalannya waktu, pada 2007 Dadan mencalonkan menjadi kepala desa. Dia pun terpilih.
Akhirnya Dadan memutuskan tak lagi mengajar karena harus fokus sebagai kepala desa. “Karena terbentur aturan waktu itu, saya akhirnya berhenti mengajar dan fokus di desa,” ungkap ayah anak 4 itu.
Dadan menilai, perjuangan mendirikan SMPN 3 Bojongpicung bukan semata-mata berkat dirinya, tetapi ada peran para tokoh masyarakat di Desa Kemang yang peduli dengan dunia pendidikan. Perjuangannya mendirikan SMPN 3 Bojongpicung didasari kuatnya keinginan membangun dan memajukan wilayahnya.
Bagi Dadan, sebuah wilayah tidak akan maju ketika dunia pendidikannya tidak maju. Sebab, pendidikan akan berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia (IPM). (bay)






























































