CIANJUR – Massa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Cianjur bersama Aliansi Mahasiswa Rakyat (AMAR) berunjuk rasa di Pendopo Cianjur, Jumat, 24 Oktober 2025. Mereka menyuarakan aspirasi penyaluran dana tunggu hunian (DTH) bagi korban bencana pergeseran tanah di selatan Cianjur.
Mereka menilai penyalurannya sangat lamban. Ditambah belum adanya kepastian relokasi bagi ribuan warga terdampak bencana.
Koordinator aksi, Khoerul Vikri, menyebut ada sekitar 1.327 kepala keluarga korban bencana yang nasibnya terkatung-katung. Pascabencana, mereka belum menempati tempat tinggal yang layak huni.
“Sudah terlalu lama warga menunggu kejelasan nasib mereka. Pemerintah daerah harus hadir memberikan solusi, bukan janji,” tegasnya.
Salah seorang warga korban terdampak bencana, Euis Sumarni (42), mengaku selama ini ia dan keluarganya hidup berpindah-pindah. Sebab, pascabencana rumahnya yang rusak belum ada perbaikan.
“Awal Juni lalu saya tinggal di aula desa. Lalu saya ngontrak. Itupun pembayarannya tersendat. Saya tinggal sama suami dan anak saya yang masih sekolah kelas 5 SD,” kata warga Kampung Cileungsir Desa Wargasari ini.
Euis berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan agar bisa membangun kembali rumahnya.
“Saya ingin cepat dapat bantuan biar bisa bikin rumah lagi,” pungkasnya. (bay)

































































