CIANJUR – Kabupaten Cianjur masih dihadapkan dengan potensi bencana hidrometeorologi bertepatan Ramadan. Pasalnya, sampai saat ini intensitas curah hujan relatif masih cukup tinggi sehingga bisa memicu kerawanan bencana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat pun bersiaga. Termasuk menyiagakan petugas relawan tangguh bencana (Retana) yang berada di tingkat desa dan kelurahan.
Saat ini, jumlah Retana di Kabupaten Cianjur sebanyak 1.800 orang. Mereka tersebar di 360 desa dan kelurahan.
Masing-masing desa dan kelurahan memiliki 5 orang petugas Retana.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cianjur Asep Kusmanawijaya mengatakan, sebagai bagian dari operasi kemanusiaan dan sosial, Retana sebagai kepanjangan tangan BPBD, harus selalu
siap siaga menghadapi berbagai potensi bencana yang mungkin terjadi. Sekalipun kondisinya tengah menjalani ibadah Puasa.
“Penyiapan personel BPBD tak hanya saat Ramadan. Setiap hari selama 14 jam kami siap siagakan. Retana merupakan kepanjangan tangan BPBD. Sudah ada lima orang petugas Retana di setiap desa dan kelurahan. Mereka jadi garda terdepan penanganan dan pertolongan pertama saat terjadi bencana,” kata Asep, Minggu, 2 Maret 2025.
Kesiapsiagaan bencana menjadi prioritas, sebab BMKG memprediksi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Cianjur, akan mengalami cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir hingga beberapa waktu ke depan. Dia pun mengimbau warga senantiasa meningkatkan kewaspadaan.
“Kami mengimbau kepada masyarakat agar senantiasa waspada, terutama saat terjadinya hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir,” ujarnya.
Asep juga menyarankan masyarakat memotong ranting atau batang pohon di lingkungan masing-masing. Sebab, kondisi cuaca ekstrem bisa memicu pohon tumbang.
“Saya mengimbau kepada masyarakat apabila ada pohon yang tinggi dekat dengan rumah dan diperkirakan membahayakan, segera dipotong. Jangan sampai melebihi dari atap rumah atau bangunan,” pungkasnya. (bay)







































































