Cianjur – Sebanyak 33 persen remaja di Indonesia dihadapkan dengan isu kesehatan mental. Minimnya literasi kesehatan mental, serta tingginya tekanan sosial dan paparan media digital yang membuat remaja semakin rentan mengalami stres, kecemasan, hingga overthinking.
Di sisi lain, keterbatasan tenaga profesional menjadi tantangan serius, dengan rasio hanya satu tenaga kesehatan mental untuk sekitar 300 ribu masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh stigma,
Hal itu membuat Tim Peneliti Universitas Putra Indonesia (UNPI) di bawah naungan LPPM UNPI bergerak untuk mengajak para pelajar hingga mahasiswa mengenal bagaimana kesehatan mental harus dibangun.
Bahkan belum lama ini, melalui program Hibah Penelitian DTPRM Kemendiktisaintek, tim peneliti menggelar workshop self healing yang diikuti 120 remaja dari berbagai sekolah, universitas, dan organisasi kepemudaan yang berasal dari 13 kecamatan di Cianjur. Kegiatan ini berlangsung pada 5 April 2026 di Auditorium Kampus UNPI Cianjur, Jalan Dr Muwardi No 66.
Workshop ini dipandu langsung oleh Ketua Peneliti sekaligus pakar komunikasi terapeutik, Dr. Astri Dwi Andriani, yang membawakan materi secara interaktif dan reflektif. Dalam sesi tersebut, Astri mengajak peserta memahami konsep kebahagiaan yang hakiki, bukan sekadar kesenangan sesaat, tetapi kondisi batin yang stabil dan sadar. Ia juga menjelaskan pentingnya regulasi emosi serta teknik stress release yang dapat dilakukan secara mandiri.
Peserta kemudian dipandu langkah demi langkah melakukan self healing atau proses menyembuhkan diri sendiri. Suasana ruangan yang semula tegang perlahan berubah menjadi lebih tenang dan emosional. Banyak peserta mengaku merasakan perubahan suasana hati setelah mengikuti sesi tersebut.
“Dari hasil observasi kami, rata-rata peserta mengalami perubahan mood yang cukup signifikan, dari yang awalnya tegang, cemas, menjadi lebih rileks dan ringan. Ini menunjukkan bahwa self healing bukan konsep abstrak, tapi bisa langsung dirasakan manfaatnya,” ujar Astri.
Ia menambahkan bahwa kemandirian dalam menjaga kesehatan mental menjadi kunci di tengah keterbatasan akses layanan profesional. Karena itu, peserta diajak untuk rutin melakukan self healing secara mandiri dengan bantuan teknologi, salah satunya melalui aplikasi Wellness yang dikembangkan oleh tim peneliti.
Aplikasi Wellness merupakan platform self healing berbasis kecerdasan buatan yang dirancang sebagai teman refleksi bagi remaja. Di dalamnya terdapat fitur check-in emosi harian, journaling, analisis suasana hati, hingga panduan langkah-langkah self healing yang personal dan adaptif sesuai kondisi pengguna. Aplikasi ini juga membantu pengguna memahami pola emosinya dan memberikan rekomendasi tindakan sederhana untuk menjaga keseimbangan mental.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Mochamad Fikri, anggota tim peneliti sekaligus developer aplikasi Wellness, yang menjelaskan secara langsung fitur-fitur aplikasi kepada peserta. Ia menekankan bahwa aplikasi ini dirancang berdasarkan kebutuhan nyata remaja.
“Kami tidak sekadar membuat aplikasi, tapi membangun sistem yang bisa memahami pengguna. Wellness dirancang agar bisa menjadi teman yang responsif, yang membantu pengguna mengenali emosinya dan memberi arahan yang tepat,” jelas Fikri.
Ia juga menambahkan bahwa ke depan aplikasi ini akan terus dikembangkan agar mampu memberikan pengalaman yang lebih personal, termasuk integrasi analisis emosi berbasis AI yang lebih akurat.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak dari mereka aktif bertanya, berbagi pengalaman, hingga mencoba langsung fitur aplikasi yang diperkenalkan. Salah satu peserta mengaku kegiatan ini membuka perspektif baru tentang pentingnya mengenali diri sendiri.
“Biasanya saya nggak sadar kalau lagi stres. Setelah ikut ini jadi lebih ngerti perasaan sendiri dan tahu harus ngapain. Apalagi ada aplikasinya, jadi bisa lanjut di rumah,” ujar salah satu peserta.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, serta mendorong remaja untuk lebih mandiri dalam menjaga kesejahteraan psikologis mereka di era digital.






























































