CIANJUR – Keberadaan hidran air di Kabupaten Cianjur relatif cukup minim. Kondisi itu kerap menjadi kendala bagi petugas pemadaman kebakaran menangani kejadian.
“Kami berharap Pemkab Cianjur bisa mengadakan hidran di titik-titik strategis. Jadi nanti bisa digunakan sebagai sumber air untuk memadamkan api saat terjadi kebakaran,” kata Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Kabupaten Cianjur Hendra Wira Wiharja, Rabu, 23 Oktober 2024.
Minimnya keberadaan hidran berdampak terhadap upaya pemadaman. Sebab, petugas harus bolak-balik mencari sumber air untuk armada pemadam kebakaran.
“Petugas tak perlu jauh mencari sumber air kalau tersedia hidran. Ini akan berdampak terhadap lamanya penanganan. Apalagi kobaran api biasanya akan cepat merembet ke lainnya,” ujarnya.
Bukan perkara mudah mencari sumber air. Apalagi dalam kondisi kedaruratan untuk memadamkan kobaran api.
“Misalnya datang ke TKP 5 menit dari Pos Damkar. Kemudian kita harus mencari sumber air dan melakukan penyedotan sekitar 15 menit untuk 5 ribu liter. Kemudian kembali lagi ke TKP dalam waktu 5 menit. Total waktu yang dibutuhkan mencari sumber air bisa sekitar 25 menit atau sekitar setengah jam,” tutur dia.
Hendra tidak bisa memperkirakan jumlah hidran yang dibutuhkan. Sejatinya harus ada kajian lebih mendalam agar bisa memperkirakan kebutuhannya.
“Setiap wilayah itu kan tidak sama soal ketersediaan sumber air,” paparnya.
Di sisi lain, kasus kebakaran di Kabupaten Cianjur cenderung turun kurun dua tahun terakhir. Apalagi tahun ini bersamaan kemarau, relatif minim kasus kebakaran lahan.
“Paling banyak terjadi kebakaran pada 2023. Data kami ada 300 kasus. Kebanyakan kebakaran lahan karena bertepatan kemarau. Tahun ini hanya 140 kasus sampai sekarang,” pungkasnya. (bay)






























































