CIANJUR – Para pelajar SMP Yachimata, Jepang, yang tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Kabupaten Cianjur, dijamu makan malam, Jumat, 2 Agustus 2024. Momen itu dimanfaatkan juga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) mengenalkan tiga pilar budaya khas Cianjur yaitu ngaos, mamaos, dan maenpo.
Tiga pilar budaya itu tak bisa dilepaskan dari karakteristik masyarakat Cianjur. Secara harfiah, ngaos bisa diartikan mengaji kitab suci Alquran, mamaos yaitu tembang Cianjuran yakni memadukan seni vokal dengan seni musik kecapi dan suling, serta maenpo merupakan seni beladiri pencak silat khas Cianjur.
Kepala Disdikpora Kabupaten Cianjur Ruhli Solehudin, mengatakan jamuan makan malam merupakan bentuk penyambutan bagi para pelajar asal Jepang yang tengah mengikuti program pertukaran pelajaran. Jamuan makan malam itu jadi momen lebih mengakrabkan antara dua pemerintahan.
“Sesuai arahan bupati, kita juga harus memperkenalkan budaya yang selama ini menjadi khas Cianjur yakni ngaos, mamaos, dan maenpo,” kata Ruhli di sela gala dinner di salah satu hotel di bilangan Jalan KH Abdullah bin Nuh, Jumat, 2 Agustus 2024.
Ruhli menuturkan program pertukaran pelajar sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Sebelumnya, para pelajar dari Cianjur melaksanakan kegiatan serupa di Jepang.
“Dengan adanya program ini, maka bisa saling mengenalkan kultur yang menjadi ciri khas di masing-masing wilayah dan tentunya berkaitan dengan pendidikannya.
Ketua pertukaran pelajar siswa SMP Yachimata, Yoshida Masahiro, mengaku terkesan dengan keramahtamahan masyarakat Cianjur. Di Cianjur, kata Yoshida, mereka disambut dengan suka cita.
“Kesan saya sangat luar biasa. Kedatangan saya ke sini sudah ketiga kalinya. Dari segi sambutan, kekeluargaannya bisa saya rasakan,” kata Yoshida melalui penerjemah.
Selain itu, kata dia, berbagai budaya khas Kabupaten Cianjur membuat takjub. Hal itu tentu meninggalkan kesan mendalam bagi siswa dan siswi SMP Yachimata Jepang.
“Menurut saya nilai positif yang didapatkan siswa dan siswi SMP Yachimata, bisa mengenal budaya di luar Jepang. Pihak sekolah dan siswa-siswi SMP Yachimata menyadari bahwa budaya Cianjur tidak sesederhana yang ada di Jepang,” pungkasnya. (bay)






























































