Cianjur – Polres Cianjur lakukan penyidikan atas dugaan malpraktik Puskesmas Sindangbarang yang menyebabkan seorang anak Dafa Al-Ghifari Nugraha (10) asal Kampung Cieurih, Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang, meninggal.
Sebelumnya, anak ketiga dari Ibu Syarifah Lawati (44) meninggal usai mendapatkan tiga kali suntikan saat dirawat di puskesmas Sindangbarang.
Hal itu, berbuntut panjang dengan laporan Syarifah ke Polres Cianjur.
Kasat Reskrim Polres Cianjur AKP Tono Listianto, mengatakan pihaknya sudah menindaklanjuti laporan dugaan malapraktik tersebut.
Pihaknya pun memanggil 7 orang saksi baik dari keluarga pasien meninggal ataupun pihak puskesmas.
“Laporan sudah ditindaklanjuti, kami sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Sementara ada 7 saksi yang sudah diperiksa. Rencana ada beberapa saksi lagi yang kami akan mintai keterangan,” kata AKP Tono, Selasa, (21/05/2024).
AKP Tono menambahkan, pihaknya juga akan melakukan ekshumasi.
“Karena anak dari pelapor sudah dimakamkan kita akan lakukan penggalian kubur untuk keperluan kedokteran,” paparnya.
Syarifah, Ibu Daffa mengatakan, awalnya Daffa mengalami demam tinggi, suaminya kemudian membawanya berobat ke seorang mantri.
Kondisinya tak kunjung membaik, Syarifah pun membawa anaknya ke puskesmas untuk ditangani lebih lanjut secara medis.
Setelah ditangani, Daffa sempat membaik dan meminta untuk pulang. Namun tenaga kesehatan (Nakes) di puskesmas menyuntikan cairan melalui infusan.
Namun setelah disuntikan cairan tersebut, anaknya tiba-tiba mengalami kejang dan muntah-muntah. Syarifah yang panik pun segera memanggil kembali perawat.
“Setelah kejang, perawat itu menyuntikan lagi cairan katanya untuk penenang. Anak saya seketika lemas setelah disuntikan cairan kedua,” kata Syarifah.
Tidak lama kemudian, lanjut dia, tenaga kesehatan puskesmas kembali menyuntikan cairan ketiga. Setelah disuntikan sang anak seketika meninggal dunia.
“Yang ketiga tidak tahu cairan apa yang disuntikan. Tapi setelah disuntik lewat infusan itu wajah anak saya membiru. Ketika saya panggil dokternya, dengan dingin dia bilang anak saya sudah meninggal,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Sindangbarang Nanang Priatna, membantah dugaan malapraktik tersebut. Menurutnya tindakan medis yang dilakukan perawat dan dokter sudah sesuai dengan SOP.
“Sudah sesuai SOP, baik sejak awal penanganan sampai tindakan medis. Makanya kami bingung kenapa jadi dugaan malapraktik,” kata Nanang. (bay)































































